Friday 14th December 2018

Aparat Pajak Diminta Tak Semena-mena Terhadap Pengusaha

Faisal Bisri

Semarang – Ekonom Indonesia Faisal Basri menilai Pemerintah dan pengusaha harus bersinergi di tengah kondisi ekonomi yang sedang lesu seperti saat ini.

“Pemerintah dalam hal ini aparat pajak tidak boleh semena-mena terhadap pengusaha. Tidak sekadar memenuhi target pajak tetapi juga harus memahami kondisi pengusaha,” kata pengamat ekonomi sekaligus politik dari Universitas Indonesia tersebut pada seminar ekonomi yang diselenggarakan oleh Universitas Dian Nuswantoro di Hotel Santika Premiere Semarang, Senin (21/9/2015).

Menurut dia, lesunya kondisi ekonomi yang dipicu oleh pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merupakan masalah bersama sehingga Pemerintah maupun pengusaha tidak boleh sembrono dalam menyikapinya.

Sementara itu, di tengah kondisi seperti ini diharapkan pengusaha bisa lebih intensif dalam menggarap pasar domestik.

“Seharusnya dalam keadaan sulit seperti ini banyak potensi yang dapat dikerjakan. Pengusaha dapat melakukan gerakan, misalnya melalui iklan,” katanya.

Sedangkan jika si pengusaha berorientasi ekspor, pihaknya mengimbau para pengusaha dapat menggunaka instrumen yang ada.

“Kita ada kerja sama dengan China terkait ‘currency swot’. Jadi kalau ingin impor dari China tidak harus pakai dolar tetapi bisa pakai rupiah sehingga pengaruhnya tidak terlalu besar. Kita impor pakai rupiah, ekspor juga begitu. Fasilitas Rp175 triliun dipakai baru 2 persen,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi menyatakan banyak perusahaan di Jateng khususnya yang menggunakan bahan baku impor kesulitan beroperasi. Pihaknya menilai, kesulitan operasional perusahaan tersebut dapat memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja. Oleh karena itu, pihaknya berharap Pemerintah segera merealisasikan paket kebijakan ekonomi jilid I.

“Diharapkan, paket kebijakan ekonomi tersebut dapat menghindari langkah PHK yang dilakukan oleh perusahaan,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengumumkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi tahap I yang berfokus pada tiga hal besar, yakni meningkatkan daya saing industri, mempercepat proyek-proyek strategis nasional, dan mendorong investasi di sektor properti. (Ant)

Editor: Cahyo Prayogo

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan