Tuesday 23rd October 2018

Kecerdasan Finansial Seorang Leader

leader

Jakarta – Kecerdasan Finansial ??? Mungkin Anda bahkan saya sekalipun baru mendengar istilah ini. Pasalnya selama ini kecerdasan manusia hanya diukur pada tiga hal saja. Apa saja itu? Kecerdasan Emosional, Kecerdsan Spiritual, dan Kecerdasan Intelegensi atau otak. Atau yang popular dengan ESQ. Bisa dikatakan Kecerdasan Finansial merupakan turunan salah satu dari ketiga hal tersebut, karena ada korelasi diantaranya.

Ketika kita mendengar kata Finansial yang identik dengan uang, yang ada di benak kita mungkin hanya kapital, kapital, dan kapital. Sekarang kita renungkan Apa dan Bagaimana Substansi Kecerdasan Finansial yang sesungguhnya. Secara etimologi, Finansial berasal dari kata Finance yang bisa diartikan Pembiayaan.

Dalam hal ini marilah kita sejenak  “Apa dan Bagaimana Kecerdasan Finansial” dalam sudut pandang kita sebagai seorang muslim. Dalam Islam Kecerdasan Finansial tidak hanya terbatas pada pembiayaan atau hal lain yang berbau kapitalisme. Islam juga mengajarkan kita tentang Muamalah yang di dalamnya diajarkan bagaimana cara kita berinteraksi dan bertransaksi dengan orang-orang di lingkungan kita, atau dalam arti sempit bisa diartikan sebagai tata cara atau kaidah dalam melakukan transaksi.

Mungkin anda bertanya, Apa urgensi Kecerdasan Finansial bagi seorang Leader ??? Toh pada dasarnya seorang Leader hanya sebagai manajer dalam suatu organisasi. Betul !?!! Seorang Leader bertugas me-maintance dinamika manajerial, mengelola suatu organisasi atau institusi atau lembaga. Tp perlu diingat, semua itu butuh dukungan dari bawahan atau pihak lain. Baik dukungan moral dan yang tidak kalah pentingnya dukungan financial.

Ketika seorang Leader memiliki bakat dalam bermuamalah, maka tentu semuanya akan lebih mudah dalam merealisasikan programnya.

Agar lebih mudah dipahami, mari kita ilustrasikan pada jajaran pemerintahan di Negara kita. Ketika kita berbicara pemerintah, sosok ideal seorang Leader (Kepala Daerah) adalah mereka yang memiliki kemampuan, minat, dan bakat di bidang ini. Bayangkan saja, jika kursi jabatan pemerintahan diisi oleh mereka yang berpotensi dan memiliki kecerdasan Finansial dalam bermuamalah yang memadai. Mereka mampu menjalankan mekanisme pemerintahan sesuai syariat islam yang memiliki prinsip dasar keadilan, mereka mampu mengelola organisasi sesuai prosedur pemerintahan tanpa melanggar syariat islam, mereka mampu memahami situasi dan kondisi Finansial rakyatnya, mereka juga mampu memberikan solusi terbaik bagi bawahannya. Yang terpenting adalah mereka bersedia menanpung aspirasi bawahan atau rakyatnya terutama masyarakat menengah kebawah yang dominan memiliki masalah ekonomi.

Bagi Leader yang paham ekonomi, tentunya mereka peka akan masalah yang dihadapi rakyatnya. Bahkan mereka akan terjun langsung untuk ikut mengatasi masalah tersebut. Banyak jalan untuk mengatasinya, mereka sudah berpengalaman di bidangnya. Mungkin masyarakat awam berharap sang Leader mau menjulurkan sejumlah uang kepadanya. Uang tersebut mereka gunakan untuk hal2 yang bersifat konsumtif sehingga pada akhirnya habis. Padahal harapan sang Leader adalah bagaimana pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi dapat berkembang. Sehingga mayarakat tidak hanya menunggu, tapi juga mampu memproduksi barang dan membuahkan hasil produksi yang mempunyai nilai tukar uang.

Di sinilah Kecerdasan Finansial seorang Leader akan benar-benar dirasakan oleh rakyat. Dia peka dan prihatin terhadap permasalahan rakyatnya, tetapi dia juga ingin memberdayakan rakyatnya agar mandiri mengatasi masalah ekonominya hingga semua masalah bisa teratasi.

Bagi mereka yang paham masalah ekonomi di bidang Finansial Perbankan dan Muamalah, ini bukanlah hal sulit. Insyaallah mereka berinisiatif mendirikan lembaga keuangan mikro berbasis syariah seperti halnya Rasulullah SAW mendirikan Jihbiz di jamannya. Sehingga ada interaksi positif antara rakyat mampu dan rakyat tidak mampu dalam mengelola dananya. Ini juga menghindari terjadinya idle/iktinaz atau pengendapan harta yang dilarang keras dalam konsep ekonomi syariah. Disinilah kosep keadilan mulai terlaksana.

Analogi yang saya paparkan diatas hanyalah sebuah bongkahan kecil system yang dimiliki islam. Masih banyak system lain yang lebih kompetitiv dan perlu diimplementasikan dalam dinamika manajerial organisasi maupun pemerintahan. Seperti halnya kewajiban menunaikan zakat, infaq, dan shadaqoh.

Besar harapan kita untuk menjalankan system tersebut secara kaffah (menyeluruh). Oleh karena itu perlu dukungan dari jajaran pemerintahan yang memiliki Kecerdasan Finansial sehingga peka terhadap kondisi ekonomi mayarakat kecil.

Betapa bahagianya kita ketika sosok Leader yang paham akan ekonomi benar-benar dirasakan keberadaannya. Mereka mampu melakukan perubahan nyata ke arah yang lebih baik.

Kesimpulan apa yang kita dapat setelah membaca goresan pena ini? Saya secara pribadi dapat menyimpulkan seberapa penting kecerdasan financial bagi seorang Leader, saya katakan itu sangat penting. Karena permasalahan rakyat terjadi karena ada kesalahan pada system perekonomian kita. What’s wrong ?!??

Seorang Muslim Tawaddu’ berkata “Uang bukanlah segala-galanya…!?!!”, kemudian kapitalis sejati menjawab “Tapi segala-galanya butuh uang…!?!!”. Semuanya benar. Bagaimana kita mengkombinasikan dialog tersebut? Saya jawab “Segalanya adalah ber-uang…!?!!”. Karena bagi saya Potensi Diri, Potensi Alam, Potensi Sistem bisa menghasilkan uang dan lebih dari sekedar uang…

Semoga mereka yang kita harapkan sebagai Leader tetap istiqomah pada niat baiknya untuk melakukan perubahan demi kepentingan bersama. (bhaktisumekar.com/ foto: ist)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan