Friday 14th December 2018

SPEKTRUM: Laku Pandai Setengah Hati

fahmi-achmad-1
Opini Fachri Ahmad
Jakarta – If money doesn’t grow on trees then why do banks have branches? Begitu kata Victor Wanyama baru-baru ini.

Mungkin kapten timnas sepakbola Kenya yang bermain di klub Southampton Inggris itu bukan orang pertama yang menyatakan kalimat tersebut, tetapi pernyataannya boleh jadi bergaung hingga ke Indonesia.

Di Tanah Air, bank masih mengandalkan kantor cabangnya sebagai perpanjangan tangan merentangkan bisnis mencari cuan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah kantor bank per Juni 2015 sebanyak 20.247 kantor atau bertambah nyaris 2.000 kantor tiap tahun sejak 2011.

Kenyataan itu seiring dengan kebutuhan akan layanan perbankan yang terus meningkat. Faktanya, tiap tahun dana pihak ketiga perbankan nasional melesat dan per Juni 2015 mencapai Rp4.319,75 triliun. Inilah industri yang memiliki dana kelolaan terbanyak di Indonesia.

Namun, itu saja masih kurang. Presiden Joko Widodo di Indonesia Banking Expo 2015 jelas menyatakan kondisi literasi keuangan Indonesia yang relatif ren dah dibandingkan dengan negara lain.

Segala cara harus ditempuh untuk menepiskan hambatan geografis terhadap akses perbankan. Tinggallah para bankir berpikir keras.

Ekspansi tetaplah harus untung, muncullah skema program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai), yang begitu gencar diomongkan dalam dua tahun terakhir.

Dalam rencana bisnis bank (RBB) yang disampaikan kalangan bankir, pada tahun ini ada 17 bank yang akan meluncurkan program laku pandai. Namun, hingga Sep tember 2015, baru enam bank yang merealisasikan rencana tersebut.

Mereka yang telah menggelar layanan keuangan tanpa kantor yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Keenam bank tersebut, tahun ini menargetkan akan mengakuisisi 67.069 agen laku pandai. Namun, hingga akhir Mei 2015, baru 1.797 agen yang direkrut. Itupun hanya mampu menghimpun 13.503 nasabah basic saving account (BSA) dengan total saldo yakni Rp1,39 miliar.

Hasil yang jauh dari harapan itu tentu membuat para skeptical menyebut program Laku Pandai bagai hangat-hangat tahi ayam. Bantahan pasti akan terucap.

OJK selaku penggagas dan pengawas industri pun seakan begitu toleran dengan kondisi yang ada. Bahkan, sang regulator juga mau memaksakan bank lain yang belum menggelar laku pandai sesuai target pada RBB pada tahun ini.

Bagi OJK, penambahan jumlah agen Laku Pandai masih belum mencapai target yang ditetapkan sebab kalangan bankir masih fokus mempertahankan kualitas bisnisnya di tengah situasi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Namanya juga barang baru, kira-kira begitulah alasan mereka. Ada bank yang hanya berani coba-coba, ada yang berkilah persoalan teknologi, kua litasagen, hingga wilayah cakupan agen yang hanya di Pulau Jawa yang notabene tak ada masalah serius dengan keterjangkauan layanan bank.

Apalagi kondisi ekonomi nasional saat ini belum stabil dan bankir juga tak berani memasang target laba tinggi karena harus mengencangkan ikat pinggang ang garan dan biaya operasional rutin.

Saya sendiri berharap banyak akan keberhasilan program Laku Pandai. Masa depan perbankan toh tak lagi diarahkan oleh bankir tetapi oleh kebutuhan masyarakat.

Bagi nasabah, selalu ada pertanyaan apa keuntungan yang didapat dari bank? Mereka tentu ingin kemudahan dalam mengakses layanan perbankan, terutama rekening mereka, kapan saja, di mana saja.

Program Laku Pandai diharapkan bisa menjawab keinginan nasabah diperlakukan secara personal. Layanan eksklusifitas dari agen yang dikenal dan dipercaya nasabah, bisa pula menjaga loyalitas sang pemilik dana.

Agen yang akrab dengan lingkungan masyarakatnya juga bisa meraup keberhasilan karena menjadi tempat un tuk bertanya dan memberikan masukan tentang waktu yang tepat bagi nasabah untuk menabung dan kapan membelanjakan.

Bagi nasabah, berlaku pameo ”Banking is necessary, banks are not.”. Intinya memang jangan jadikan program Laku Pandai sebagai solusi setengah hati.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan