Friday 14th December 2018

Tommy: Tak Perlu Risih Partai di Luar Pemerintahan

2155292

Jakarta – Belakangan ini seiring perpecahan di tubuh Partai Golkar, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto sering menulis status di facebook dan twitter. Dalam akun facebooknya Hutomo Mandala Putra dan akun twitternya @HutomoMP, Selasa (28/4/2015), Tommy menyoroti tentang keberadaan partai di dalam dan di luar pemerintahan.

Menurut putera Presiden kedua RI Soeharto ini, kalau tujuan membangun bersama tidak perlu risih dengan keberadaan partai di luar pemerintahan. Toh tetap mendukung program-program yang pro rakyat. Sedangkan kader partai yang bergabung dengan pemerintahan itu tidak masalah, malah lebih baik, karena partai penyeimbang memiliki kepanjangtanganan langsung. Oleh karena itu seharusnya kedua kubu yang berseberangan tidak salah presepsi dengan yang namanya bergabung atau tidak bergabung dengan pemerintahan. (Baca: Tommy Soeharto Ancam Mau ‘Habisi’ Yorrys?)

Tommy mengemukakan, bergabung atau tidak bergabung dengan pemerintahan sama saja. Selagi itu program baik tentu sebagai warga negara yang berpikiran membangun akan mendukung.

Terkait Golkar terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu Aburizal Bakrie (ARB) dan kubu Agung Laksono, Tommy menegaskan kedua kubu seharusnya tidak perlu khawatir dengan kehadirannya. Tommy bermaksud menyatukan dua kubu. Dia memposisikan diri sebagai penengah.(Baca: Yusril: Kubu Golkar yang Ikut Pilkada Tunggu Putusan Pengadilan!)

Tommy Soeharto (keempat dari kiri) bertemu dengan Golkar kubu ARB, Jumat (10/4/2015)

Banyak pihak menilai Tommy berpihak pada kubu ARB. Pasalnya, seorang kakaknya, Siti Hediati alias Titiek, menduduki posisi salah satu ketua DPP Partai Golkar pimpinan ARB. Bahkan kubu ARB yang antara lain terdiri dari ARB, Akbar Tandjung, Titiek, dan beberapa petinggi Golkar lainnya bertemu dengan Tommy, Jumat (10/4/2015). Namun, tak disebutkan di mana tempat pertemuan. Tommy mem-posting pertemuannya dengan kubu ARB di akun facebook dan akun twitternya pada hari itu juga.

Tommy mengakui kubu ARB memang pernah bertemu dengannya. Menurutnya, hal itu wajar sebagai sesama kader untuk tukar pendapat. “Bertemu bukan berarti saya memihak membabi buta. Saya hanya ingin perpecahan ini tidak berlarut larut. Jangan terlalu menaruh kecurigaan yang berlebih karena hanya akan membuat susah tidur,” katanya.

Kedua kubu di partai beringin saling memecat kader-kadernya. Menurut Tommy, tindakan main geser atau saling pecat bukanlah jalan keluar yang arif. “Kita perlu menyatukan persepsi, bukan orientasi,” ujarnya.

Tommy menepis tudingan dia akan mengambil alih Golkar. “Jangan hanya karena saya turut campur lalu semua pada curiga saya akan mengambil alih. Saya angkat bicara masalah Partai karena saya melihat tindakan saling berebut itu semakin tidak elok, sudah mengarah pada kekerasan,” katanya. (Baca: Memalukan, Konflik Golkar Sudah Menjurus Kekerasan)

Dia mempersilakan kader-kader Golkar yang hendak bergabung dengan pemerintahan untuk turut mengatur progran-program kerakyatan. Yang lain silakan jadi penegur. “Yang tidak tergabung dalam pemerintahan silakan jadi penegur, penyeimbang dan pemberi suport program-program pro rakyat,” ujarnya.

Tommy berpendapat tidak perlu ada kubu A Atau kubu B. Kalau serius memikirkan kemaslahatan rakyat, bukanya pembangunan akan terhalang jika ada perseteruan? Mari satukan kembali. Jangan ada lagi kecurigaan dan opini-opini yang menyesatkan. Dukung yang baik dan serukan perbaikan pada hal-hal menyimpang,”pungkasnya. (Arif RH)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan